.:Sebening Kasih-Nya: Fragmen Akhir:.

Di depan kamar operasi aku dan Mas Adi menunggu dengan kecemasan yang sangat. Mas Adi adalah satu-satunya keluarga yang dimiliki istriku. Ayah dan ibu istriku meninggal karena kecelakaan setahun sebelum kami menikah. Aku lebih dulu mengenal Mas Adi ketimbang istriku. Lelaki jangkung dengan tubuh proporsional, berkulit kecoklatan dan mantan pemain basket sama sepertiku. Karena Mas Adi-lah aku diperkenalkan dengan istriku, Tirtir.

Pertama kali mataku berpapasan dengan Tirtir saat aku baru saja selesai membuat jaringan internet dari wajan bolik(5) yang dipesan oleh Mas Adi. Tanpa sengaja aku menemukan sesosok perempuan berparas cantik dengan balutan kerudung berwarna jingga dan jilbab putih yang menjuntai anggun. Hatiku berdebar kencang. Sungguh, saat itu aku hanya ingin segera pulang tanpa tahu siapa dia.

Namun, Allah memiliki skenario lain. Aku dipertemukan kembali dengan perempuan itu di sebuah rumah sakit ketika aku mengantarkan ayahku berobat. Aku pikir ini hanya kebetulan saja namun dokter yang merawat dan mengontrol kesehatan ayahku adalah perempuan yang sama yang kutemui pertama kali di rumah Mas Adi.

Beberapa bulan kemudian ayahku meninggal dan menyisakan kepedihan yang begitu dalam. Mas Adi pun ikut sedih dengan apa yang kuhadapi karena ia pun pernah mengalami hal itu sebelumnya, kehilangan sosok figur yang selalu menyayangi dan mengayomi keluarga. Masih kuingat apa yang dikatakan Mas Adi saat itu bahwa Allah akan mengambil kembali apa yang ia titipkan kepada kita dan pada saat itupula Allah telah menyediakan kado istimewa buat kita. Sebuah kalimat yang begitu dalam dan menyentuh hatiku.

Dua bulan setelah kepergian ayahku, di situlah Allah memberikan kado istimewa kepadaku. Sebuah kado yang hingga sekarang tetap kujaga. Saat itu Mas Adi memperkenalkanku dengan adiknya, Tirtir. Sebulan kami ta’aruf, akhinya kami pun sepakat untuk memperkuat keimanan dan ibadah kami dengan menikah. Begitulah aku menimbang masa laluku akan Mas Adi dan istriku yang kini tergolek lemah di kamar operasi.

Pintu kamar operasi tiba-tiba terbuka, Dokter Anies keluar dari balik pintu itu. Aku dan Mas Adi menghampiri dia bersamaan dan mempertanyakan kondisi istruku.

“Bagaimana, Nies?” Tanyaku gusar.

Kepala dokter Anies tertunduk sembari ia melepaskan jas putihnya kemudian menggantungkann jas tersebut di lengan kirinya.

“Bagaiamna, Dok?” Mas Adi bertanya tegas.

Dokter Anies menarik nafas panjang dan menghembuskannya kuat. Kepalanya menggeleng, belum sempat ia berkata apapun mataku nanar dan tak tahu lagi harus berbuat apa. Kesedihan itu semakin memuncak, berfluktuasi, dan meledak di dadaku.

Dokter Anies tidak menjawab pertanyaanku dan Mas Adi, dia masih saja diam.

“Kita bicara di ruangan saya.” Sarannya kemudian.

Hatiku berangsur tenang dan kesedihanku yang memuncak berhasil kutahan. Aku tidak ingin membuat semuanya runyam bila aku tidak berpikir dengan jernih.

“Angga, operasinya tidak jadi dilaksanakan. Karena keanehan terjadi.” Anies menerangkan singkat.

“Maksudmu?” Aku mengejar pernyataannya.

Dokter Anies memperbaiki posisi duduknya, tubuhnya yang sebelumnya bersandar pada kursi kini duduk dengan posisi sigap dan menatap kami serius.

“Belum sempat aku dan dokter lainnya menggoreskan pisau bedah di area kanker, pisau itu patah ketika menyentuh kulit istrimu. Tiga kali kami ulangi proses pembedahan namun pisau bedah kembali patah. Kami mengambil keputusan untuk menundanya nanti malam.” Papar Anies.

Menjelang operasi kedua, aku tidak diijinkan untuk bertemu dengan istriku. Dokter Anies memintaku untuk tenang dan ikuti prosedur yang ada. Aku hanya bisa pasrah, dan sesenggukan. Mas Adi yang berada di sampingku, merangkul pudakku dengan cengkramannya yang kuat.

“Mau aku bercerita tentang kepergian almarhum mertuamu?” Tanyanya padaku.

Aku diam, tak menjawab pertanyaannya.

“Ayah dan Ibu pernah berkata kepadaku juga Tirtir, untuk percaya kepada Allah atas segala sesuatu dan mereka meminta kami agar selalu berdoa kepada-Nya dengan sebuah doa yang begitu indah.” Mas Adi diam sejenak. Perlahan aku menenangkan hati dan mencerna apa yang dikatakan oleh Mas Adi kepadaku.

“Doa apa itu, Mas?” Tanyaku.

Bismillah tawwakaltu alallah. La haula wala quwata ila billah. Kamu berusaha namun menyerahkan segala usahamu pada Allah, sebab tiada daya upaya selain daya upaya dari Allah semata.”

Tiba-tiba saja hatiku bergetar, doa yang selalu terlantun dari bibir istriku. Membuatku begitu tenang, begitu teduh dan menyejukkan layaknya hujan yang membasahi hatiku yang kering.

Proses pengoperasian Tirtir sedang berlangsung. Aku dan Mas Adi masih menunngu di tempat yang sama. Aku tidak bisa tidur malam itu, aku meminta Mas Adi untuk istirahat dan tidur barang sejenak agar nanti bisa bergantian untuk berjaga.

Sudah empat jam menunggu, tak sedikitpun aku mengantuk. Aku masih menunggu hingga pintu ruang operasi terbuka dan aku menghampiri dokter Anies tanpa meghiraukan Mas Adi yang masih terlelap.

Belum sempat aku bertanya pada dokter Anies, dia memintaku untuk tenang. Seraut senyum tergurat diwajahnya.

“Alhamdulillah. Operasinya berhasil, Ngga. Dan Tirtir masih perlu istirahat saja untuk pemulihan.”

Mendengar hal itu membuatku begitu tenang dan lega.

“Kasus ini membuatku belajar akan pertolongan Allah.” Lanjut dokter Anies

Aku hanya mengernyitkan keningku.

“Operasi hanya dilakukan untuk mengangkat kanker itu setelah Allah mengoperasi istrimu dengan Kuasa-Nya.”

“Maksudmu?”

“Allah telah membantu kami untuk mengangkat kanker yang ada dalam kandungan tanpa harus mengangkat ovarium istrimu. Tentunya ini sangat langka terjadi dalam dunia kedokteran.” Jelas dokter Anies.

Aku merasakah getaran yang hebat dalam dadaku. Sungguh Maha Kuasa Allah yang telah memberikn kekuatan-Nya.

***

Beberapa bulan kemudian

Selama pasca penyembuhan Tirtir menunjukkan kesehatan yang sangat baik. Aku semakin yakin bahwa dia sudah mantap untuk menjalani aktifitasnya lagi sebagai dokter. Sepertinya rasa sakit yang ia alami dulu sudah benar-benar hilang dan tak sedikitpun ia mengeluhkannya padaku.

Sejalan dengan rutinitas kami yang biasanya. Aku mendapatkan tawaran bekerja di sebuah instansi telekomunikasi di Bandung. Sungguh aku merasakan kebahagiaan yang berlipat. Terang saja aku mendiskusikannya bersama Tirtir dan kami sepakat agar aku mengambil pekerjaan itu.

Bulan berganti dan kini sudah satu setengah tahun kami sibuk dengan pekerjaan. Sepulang kerja, di bilangan Jalan Raya Bogor daerah KUD aku melihat seorang perempuan hamil di dalam becak yang bergerak lambat. Aku melihat seraut kelelahan dan kesakitan di wajah perempuan itu dengan sesekali ia mengelus perutnya.

Jarak dari KUD menuju rumah sakit terdekat cukup jauh, sekitar tiga kilo. Terang saja aku menghentikan Innova-ku beberapa meter di depan becak tersebut dan meminta perempuan itu ikut bersamaku.

“Terima kasih, Mas. Udah mau bawa istri saya.” Ujar penarik becak yang ternyata suami perempuan itu.

“Mas ikut juga bersama saya, becaknya dititipkan saja dulu.” Saranku.

Sesampainya di rumah sakit aku tidak langsung meninggalkan mereka begitu saja di ruang bersalin, apalagi melihat wajah sang suami –penarik becak tersebut– yang begitu tegang.

“Tenang, Mas. Serahkan semuanya pada dokter dan perawat yang lebih ahli.” Aku mengajaknya berbicara.

“Insya Allah, Mas. Saya benar-benar khawatir, apalagi ini kehamilan pertama istri saya.”
Aku paham akan kekhawatirannya.

“Yang saya takutkan juga adalah biaya persalinan ini, Mas. Saya hanya penarik becak. Penghasilan saya hanya cukup untuk makan saya dan istri.”

“Jangan khawatir dengan masalah biaya, Mas. Allah selalu memberikan yang terbaik bagi umat-Nya. Insya Allah dan bila Mas mengizinkan, saya akan menanggung biaya persalinan bahkan keperluan bayi Mas nantinya.”

“Terima kasih banyak, Mas. Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada istri, anak-anak, dan keluarga Mas.”

Aku hanya tersenyum dan mengaminkan doanya dalam hati.

Dalam perjalanan pulang pikiranku masih tertuju pada penarik becak tadi. Pertemuan itu membuatku merindukan sosok seorang anak yang akan meramaikan rumahku. Sosok yang akan memanggilku ayah. Tak henti aku memohon akan hal itu kepada-Nya. Huff… aku hanya menghela nafas panjang.

***

Waktu menunjukkan pukul sepuluh pagi. Aku harus membawa Tirtir kembali chek up karena ia sering mual dan muntah-muntah bahkan yang membuatku semakin khawatir adalah sering kali ia pingsan. Entah apa yang terjadi padanya. Aku berharap ini adalah sebuah kebaikan.

“Bagaimana, Rum? Apa istri saya baik-baik saja?” Tanyaku pada dokter Arum, teman semasa sekolahku dulu.

Dokter Arum menyunggingkan senyum dan aku tak mengerti maksud senyumannya, “Selamat! Istrimu sedang hamil tiga bulan.”

Aku benar-benar kaget dengan apa yang dikatakan oleh dokter Arum. Kesedihan dan kebahagiaan menyelimutiku begitu saja. Aku benar-benar bersyukur atas karunia ini. Lagi-lagi Ia memberikan kebahagiaan kepadaku.

Setelah mengantarkan dokter Arum keluar rumah, aku langsung menghubungi Mas Adi untuk memberitahukan berita gembira ini dan memintanya datang kerumahku. Sembari menunggu aku menghampiri istriku yang senyum-senyum melihatku.

“Sayang, Alhamdulillah kita telah diberikan izin untuk memperoleh anak.” Ujarku pada Tirtir.

“Iya, Bi. Umi juga nggak habis pikir begitu besar karunia-Nya pada kita.”

“Mungkin Allah memberikan pesan bagi kita untuk tetap menjaga izzah-Nya dengan apa yang telah kita dapat selama ini.”

“Iya, Bi”

“Sungguh nikmat yang luar biasa. Penyakit Umi yang tiba-tiba saja tidak merusak kandungan Umi dan kini Umi hamil. Ya Allah, kami begitu kecil dan lemah.”

Tirtir tersenyum, “Semoga kita bisa menjaga amanah ini dengan baik, ya. Sebening kasih-Nya pada kita.”

Aku mengangguk kemudian memeluknya dan mengecup keningnya yang lembut.

“Bi, belikan Umi playstation sekarang ya.”

Keningku berkerut, “Untuk apa, Mi? Kok minta PS.”

“Umi kan ngidam kepengen main PS, Oke Bi!” Tirtir mengerlingkan mata kanannya padaku dan aku nyengir.

Catatan:
(1)Petrichor adalah bau tanah yang baru saja dibasahi oleh hujan.
(2)Puisi “Munajat Seorang Hamba; Rudi Armanda” dengan sedikit perubahan.
(3)The Silent killer atau Kanker Ovarium (Kista Ovarium) adalah kanker pada ovarium yang menyebabkan kematian terbanyak karena muncul tanpa gejala (asimtomatik) dan baru menimbulkan keluhan jika masuk pada stadium lanjut.
(4)QS. Al-Baqarah: 155
(5)Wajan bolik merupakan piranti keras yang digunakan untuk menangkap sinyal radio, biasanya digunakan untuk pengelolaan internet.

.:Sebening Kasih-Nya: Fragmen 2:.

Beberapa bulan telah berlalu seperti biasa aku menjalani hari-hari dengan biasanya sebagai seorang penulis lepas, programmer lepas, dan fotografer lepas. Tidak ada pekerjaan tetap yang kumiliki melihat sulitnya mendapatkan pekerjaan di kota-kota besar seperti Bandung dan Jakarta, hanya sebuah title yang kusandang sejak lulus kuliah dulu sebagai sarjana teknik. Lain halnya dengan istriku, lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dengan predikat cum laude dan kini bekerja sebagai dokter di beberapa rumah sakit di daerah Jakarta dan sekitarnya.

Aku pernah merasa minder dengan istriku. Parasnya yang cantik, putih dan bersih sangat berbeda jauh dengan diriku. Aku yang memiliki paras pas-pasan dengan warna kulit kecoklatan ditambah lagi beberapa bekas luka di lengan, dagu serta keningku. Luka karena kecelakaan yang lama kudapati semenjak sekolah dasar. Namun, aku sangat bangga terhadapnya walau kadang dia sangat manja kepadaku, sebagai suami aku merasa sangat beruntung mendapatkannya. Perempuan shalihah yang bertakwa, mencintai kebaikan dan tak pernah lupa berdzikir kepada Allah. Mendengar kata-kata yang menyakitkan keluar dari mulutnya pun aku tak pernah.

Beberapa hari terakhir kondisi kesehatan istriku mulai tidak stabil, nafsu makannya berkurang, dan tubuhnya semakin kurus. Aku pikir ini hanya karena aktifitasnya yang melelahkan dan butuh cukup istirahat saja. Namun, perkiraanku meleset. Istriku mengidap penyakit ganas yang memaksanya untuk mengehentikan aktifitas kedokteran dan mengharuskannya opname sebagai pasien di Rumah Sakit Dharmais, Jakarta Barat.

“Abi, Sudah jam berapa ini?” Tanya Tirtir yang terbangun dari tidurnya dengan suara cukup berat.

“Jam setengah dua pagi, sayang. Kenapa?” aku berbisik ketelinganya.

Tirtir terdiam sejenak. Matanya meneraawang ke langit-langit, aku hanya diam dan menahan air mata yang siap tumpah.

“Umi haus…” Nada suaranya semakin lirih dan hampir tak terdengar.

Langsung saja aku mengambil segelas air putih di meja sebelah kiri laken tempat Tirtir terbaring lemas. Sebelum kusematkan sebuah sedotan ke bibir Tirtir, kutangkap sebuah nada datar keluar dari bibirnya, sebuah doa yang terlantun berulang kali dan terus dilantunkannya.  Aku bergetar menyaksikan istriku begitu lemah.

“Umi, minum dulu ya.” Tukasku, sembari membantunya bangkit dari pembaringan.

Setelah Tirtir selesai minum, aku meminta diri untuk pamit sejenak menunaikan shalat tahajud dan meminta Mas Adi untuk menjaga Tirtir selama aku pergi ke masjid.

Malam semakin hening dan sunyi. Hanya nyanyian gerimis dengan wangi petrichor(1) yang menyeruak dan detak jarum jam yang begitu kuat terdengar di telingaku. kutunaikan tahajudku lalu sesenggukan begitu saja dalam setiap doa yang kupanjatkan untuk istriku.
dalam dekapan tangan cinta
aku pasrahkan pada Sang Maha Pencipta
karena hanya di dalamNya
kesejatian cinta menjadi nyata

aku tak pernah menyangka
dan tak pernah merencanakan
bahwa aku menyayanginya

apakah ia memiliki cinta sekadar dengan cintaku padaMu?
cinta itu muncul dengan ketakberdayaannya
menyergapku
memelukku

aku pasrah
tapi bukan tidak berdaya
aku menerima
tapi bukan tanpa senang dan bahagia

jiwa yang telah Engkau pilih
oleh cintaMu yang tulus
tidak akan gamang dengan kedudukan
apalagi oleh rupa dan penampilan

ia hadir begitu anggun
yang akan menghibur saat sedih
saat kita terpuruk
membimbing hati
dan menjadi pelita dalam gelap

saat kerinduan padaMu telah memuncak
ketika manusia terlelap
dan bumi menjadi lengang
aku berbasuh wudhu
shalat tengah malam
lalu menengadahkan tangan
aku berdoa untuknya
dan karena rindu yang sudah tak tertanggungkan(2)

***

Aku berlari dari area parkir menuju pintu Rumah Sakit Dharmais. Sempat kulirik beberapa orang yang duduk di ruang tunggu dekat pintu masuk memandangiku heran. Tanpa menghentikan lariku, langsung saja aku menuju ruangan Dokter Anies, teman semasa sekolah menengahku dulu dan juga yang manangani kesehatan istriku saat ini.

Sampai di depan pintu masuk ruang dokter, aku menyapa Mas Adi dan langsung saja menanyakan apa yang terjadi. Mas Adi hanya menjelaskan kesehatan Tirtir yang mulai memburuk.

“Kata Dokter Anies, Tirtir harus segera dioperasi.” Ujar Mas Adi.

Mendengar hal itu membuatku syok tak karuan. Aku rebahkan tubuhku keras ke dinding kamudian menangis sesenggukan. Aku khawatir kehilangan Tirtir dalam operasi ini walau aku akan kehilangan kesempatan memiliki seorang anak dari rahimnya. Tangisku sungguh tak tertahankan.

“Tenanglah, Angga. Serahkan kepada Allah. Dia yang memiliki segalanya.” Kali ini aku kembali menemukan ketenangan Mas Adi seperti biasanya walau aku menangkap matanya pun mulai tergenang air mata.

“Baiklah, Mas. Saya paham. Hanya ini satu-satunya jalan terbaik untuk menyelamatkan Tirtir.” Aku berusaha sekuat tanaga menahan air mataku dan kembali mengatur nafasku agar emosiku dapat terkandali.

“Saya masuk dulu untuk bertemu Dokter Anies.” Lanjutku

Mas Adi menganggukan kepalanya dan mencengkram bahuku kuat seakan-akan dia berusaha untuk membuatku tegar dan kuat.

Setelah dokter mempersilakan aku duduk dan kami bertegur sapa sejenak, aku langsung saja menyetujui apa yang disampaikan dokter Anies kepada Mas Adi.

“Angga, tunggu dulu. Kamu tahu kalau operasi ini kamu setujui maka istrimu tidak akan bisa memberikan keturunan?” Anies mengingatkanku sebelum aku menandatanagani surat keputusan tersebut

“Saya tahu Nies dan saya tidak ingin istri saya menderita dengan penyakit ini.”

“Silakan tanda tangan dan doakan saya agar operasi berjalan dengan lancar.”

“Amin” ujarku singkat dan segera menandatangani surat keputusan itu.

“Operasi akan dimulai jam empat sore ini. Temuilah istrimu. Saya yakin dengan ketegaran dan ketabahan istrimu. Dia adalah dokter yang sangat hebat.” Anies tersenyum padaku.

Di kamar sebuah rumah sakit, aku duduk di samping istriku yang masih terlelap dalam tidurnya. Kuperhatikan tubuhnya yang semakin kurus, wajahnya cekung tak seperti dulu, selalu ceria dengan lesung pipinya yang manis. Kini ia tergeletak lemah.

Jarinya bergerak perlahan, terang saja kugenggam telapak tangannya untuk memberikan kekuatan dan sebagai isyarat bahwa aku ada di sampingnya. Sesaat itu pula ia membuka mata lalu melirik kepadaku. Ia berusaha menyunggingkan senyuman dan mengerlingkang mata kanannya kepadaku. Aku tersenyum dalam balutan air mata.

“Abi, Umi kangen…” Tirtir mulai berbicara

“Kangen Abi, ya?” Aku menggodanya. Dia hanya tersenyum kecil sambil menahan sakit yang kulihat dari air mukanya.

“Sayang istirahat saja, ya.”

“Umi capek tiduran terus!”

“Abi ganggu Umi tidur, ya?”

“Gimana bisa tidur? Umi dari tadi merem-melek aja nggak bisa tidur.” Sempat saja Tirtir mengajakku bercanda padahal tubuhnya sangat lemah.

“Bi, Umi sakit apa sih?” Pertanyaan Tirtir membuatku bingung. Aku tidak ingin dia kaget dengan penyakit yang diidapnya. Aku tidak ingin menambah kepedihan dalam hatinya.

Say it, Bi. Umi juga dokter dan Abi jangan terlalu khawatir dengan kondisi psikis Umi.” Tirtir meyakinkanku.

Aku menghela nafas panjang, “Oke! Umi mengidap the silent killer(3)

“Masya Allah…” Ujarnya terkejut.

Aku tahu hal ini pasti menyakitkan hatinya, membuatnya drop, bahkan aku siap mendengarkan tangisannya yang menjadi-jadi. Namun, suasana hening. Tirtir diam, menutup matanya. Aku melihat bibirnya bergetar dan melantunkan sebuah doa itu lagi, doa yang membuatku selalu terhenyak dan bergetar. Sekuat inikah istriku menerima cobaan-Mu ya, Allah.

“Abi, maafkan Umi yang selalu merepotkan Abi.” Lanjut Tirtir dengan nada bergetar. Perlahan air mata membasahi pipinya.

“Sayang, jangan berbicara begitu. Abi sangat tulus dan ikhlas mencintaimu. Dan sesungguhnya akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.(4)” Aku meyakinkan Tirtir dengan petikan baitNya.

Tirtir mulai sesenggukan, tangannya menggenggamku tanganku erat. Tubuhnya bergetar dan kudapati sebuah senyum yang ia ulaskan tulus kewajahku.

“Abi, Umi sangat beruntung memiliki suami seperti dirimu. Andaikan Allah memang harus mengambil Umi kembali kepada-Nya, Umi hanya ingin Abi yang menjadi pendamping Umi di akhirat nanti.”

Aku hanya tersenyum, tak tahu lagi apa yang harus kukatakan padanya. Aku hanya ingin ia kembali sembuh dan sehat seperti semula. Aku sangat merindukan sosoknya yang penuh semangat dan ceria.

“Jam berapa operasinya, Bi?” Tanya Tirtir.

“Jam empat, sore ini. Masih empat setengah jam lagi. Umi istirahat, ya. Anies berpesan agar Umi cukup istirahat sebelum operasi nanti. ” Jawabku dan Tirtir mengiyakan.

Matahari telah dewasa. Lamat-lamat kudengar adzan Zuhur bersahutan dari beberapa masjid di luar Rumah Sakit. Ya Allah, kepadaMu kami berserah diri.

***

.:Sebening Kasih-Nya: Fragmen 1:.

“Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menyia-nyiakan amalan mereka. Ia menguatkan hati mereka dengan kekuatan-Nya, membantu mereka dengan kekuasaan-Nya, menjaga mereka dengan keperkasaan-Nya. Setelah itu Dia menganugerahkan keridhan-Nya pada mereka dan memasukkan mereka ke dalam surga-Nya.”
(Muntadiyah Al-Musafir)
***

Syng, Umi tnggu di gdg teratai lantai dua ya. Luv u much, emuach;-)

Aku nyengir membaca SMS-nya. Setelah menerima SMS dari istriku, aku langsung beranjak ke lantai dua Gedung Teratai. Gedung itu terletak di selatan Rumah Sakit Cibinong Sedikit berlari kecil, menaiki tangga, dan hup… aku sampai di depan meja informasi lantai dua. Kulihat ada tiga perempuan berkerudung putih sibuk dengan pekerjannya masing-masing.

“Assalamu’alaikum, Mbak” Sapaku pada salah seorang perawat berkerudung tadi.
“Wa’alaikumsalam. Bisa saya bantu, Pak?” Tanyanya lansung dengan ramah tersenyum.
“Saya Angga. Maaf, saya bisa bertemu dengan Dokter Tiara.”

“Suami Ibu Tiara, ya?”

“He… iya.” Aku kaget dengan pertanyaannya.

“Tadi, Ibu berpesan agar bapak menunggu beliau di sini. Insya Allah beliau tidak akan lama karena beliau sedang mengontrol pasien-pasien di kamar terakhir, 206.”
Aku mengangguk paham.

Menunggu istriku membuat suasana di sekitar meja informasi hening. Perawat-perawat yang berada di hadapanku sibuk dengan pekerjaan mereka.

“Bapak bekerja sebagai penulis, ya?” Salah seorang perawat dengan tanda nama Mela tiba-tiba bertanya padaku, Memecah keheningan, “saya dengar dari Ibu Tiara yang senang sekali berbicara tentang Bapak” Lanjut perawat tersebut.
“Beberapa karya yang Bapak tulis pun pernah saya dan perawat lain baca, tentunya dengan izin Ibu Tiara” Sambung perawat satunya lagi. Sepintas kulirik tanda namanya bertuliskan Rina. Ia memberikan sebuah senyuman yang cukup menenangkan.

Aku grogi dengan sebutan yang digunakan oleh perempuan itu untuk memanggilku, karena umurku masih terlalu muda untuk dipanggil bapak.

“Duh, sepertinya Dokter Tiara berhasil membuat saya semakin malu nih Mbak?” Kami berempat tertawa kecil.

Suasana tidak sehening sebelumnya. Aku dan ketiga perawat itu berbincang akan kesibukan rumah sakit setiap harinya, hingga akhirnya aku menangkap sebuah salam yang begitu kental, suara yang begitu hangat merasuk ke palung hatiku,

“Assalamu’alaikum, Abi.” Seorang perempuan berkerudung hitam polos dengan jas putih khas dokter.
“Alaikumsalam ya Umi” aku menjawab salamnya dengan penuh senyum keikhlasan seraya memeluk istriku erat. Tanpa sengaja kulirik beberapa perawat tadi sedang senyum-senyum melihat kami.

“Maaf menunggu lama ya, Bi. Umi baru aja selesai kontrol pasien nih. Kita ngobrol di ruangan Umi aja ya!” Pintanya padaku.
Aku manggut meniyakan ajakannya.

Aku berada di sebuah ruangan berukuran tiga kali empat meter bercat putih ditambah beberapa poster kesehatan yang ikut menghiasi. Di dinding bagian kiri ruangan terpasang sebuah jendela berukuran sedang dengan tirai berwarna putih bersih berenda. Kemudian, dua buah rak berwarna kehijauan terbuat dari besi tipis bertengger di sisi kanan ruangan, mungkin tempat berkas-berkas pasien. Lalu, ditengah ruangan terdapat sebuah meja kerja beserta berkas-berkas yang tertata rapi di atasnya. Aku menyungnggingkan senyum ketika melihat sebuah papan nama di atas meja tersebut bertuliskan sebuah nama yang membuatku begitu bangga, dr. Tiara Ramadhani Syammarhan, Sp.PD

“Abi, Maafkan Umi…” Ujar Tirtir –nama kesayangan istriku– lirih, kualihkan wajahku ke arah istriku,  mata kami beradu pandang.
Aku tersenyum menangkap binar matanya dengan raut wajah yang menandakan keresahan “Kenapa meminta maaf, sayang? Tadi Abi tidak menunggu lama, kok.”

“Bukan itu.” jawab Tirtir

“Lalu?”

“Maafkan Umi, yang hingga kini belum bisa memberikan Abi keturunan.” Suaranya bergetar, wajahanya menunduk namun aku sempat melihat sebuah air mata menggenang di pelupuk matanya. Aku mendekat lalu memeluknya erat.

“Kita pernah membicarakan ini sebelumnya. Tak perlu bersedih, sayang.” Sebuah kecupan hangat kudaratkan di keningnya, tangannya semakin erat memlukku, dan aku merasakan butiran air matanya yang hangat meretas di dadaku.

Kembali aku teringat pada setahun yang lalu. Kami pergi untuk check up karena tak ada tanda-tanda kehamilan dari istriku. Saat itu aku berpikir, kesibukanlah yang membuat tanda-tanda itu tak terlihat. Namun, setelah kami memeriksa kesehatan kami masing-masing, tanpa kuduga bahwa istriku divonis mandul.

Aku terperangah dengan apa yang diucapkan dokter saat itu, mungkin dia salah. Tapi setelah kami cek kembali hasilnya tetap sama. Masih belum puas dengan hasil pemeriksaan itu, kami kembali melakukan check up di rumah sakit yang berbeda. Namun, hasilnya masih saja sama.

Mulailah terlihat pandangan sinis dari keluargaku terhadap perempuan yang sangat kucintai ini. Celaan dan hinaan makin hari makin jelas nampak. Hingga suatu hari ibuku berkata terus terang meminta agar aku menceraikan istriku dan menikah lagi atau bila tidak dengan jalan cerai asal istriku mau di poligami dengan tujuan bisa mendapatkan anak dari istri kedua nanti.

Aku tidak menerima usulan keluargaku saat itu. Aku berkata tegas pada seluruh keluarga bahwa aku tidak akan menceraikan istriku apalagi meninggalkannya dengan perempuan lain bahkan menduakannya. Aku mencintai istriku dengan tulus. Aku rela dengan keadaannya dan ia pun rela dengan keadaanku.

Masa-masa itu cukuplah berat bagiku sampai-sampai keluargaku mengucilkanku. Hal itulah yang membuat istriku tahu bahwa aku telah merelakan keluargaku untuknya saat itu.
“Abi, Umi rela di poligami…” Suara Tirtir yang masih bergetar memecahkan kenanganku akan masa lalu.

“Sstt… Umi jangan berbicara seperti itu. Bukankah saat di awal menikah dulu Umi tidak ingin di poligami dengan alasan apapun? Abi sangat mencintaimu, sayang.” Aku meletakan telunjuk dibibirnya, berusaha menenangkannya walau sebenarnya hatikupun terserang kegelisahan.
“Tapi itu kan dulu, sekarang…”

“Sudahlah, sayang. Kita sama-sama ikhtiar dan tawakal, Allah punya skenario atas jalan hidup hamba-Nya.” Setenang mungkin aku memotong ucapannya agar dia tidak semakin larut dalam kesedihannya walau hatiku perih. Ya Allah kuatkan keimanan kami.

“Sayang kita pulang yuk. Sudah jam sembilan malam.” Usulku
Tirtir menganggukkan kepala masih dengan sesisa air matanya.

***